Top
  /     /   Dosen IKJ

Seniman dan Designer Kolaborasi Ego

Kolaborasi di dalam dunia seni gencar pada era Dada dan Surealisme. Seniman era ini berlomba-lomba untuk menguji batas seni. Bermain dengan medium, ide, dan juga kolaborasi. Contohnya, Man Ray dan Duchamp dengan potret-potret Rrose Sélavy (alter ego Duchamp); Hans Richter, Man Ray, dan John Cage pada film Dream That Money Can Buy (1947). Metode kolaborasi terus diolah khususnya pada 1960 hingga kini. Pada akhirnya, metode ini pun menjadi penanda penting transisi dari seni modernis ke postmodern (dalam hal ini kontemporer).

Kolaborasi-kolaborasi artistik kontemporer yang cukup berhasil di antaranya adalah Andy Warhol-Basquiat, Gilbert-George, dan Marina Abramovic-Ulay. Bahkan pada Abramovic-Ulay, kolaborasi dilakukan cukup panjang sehingga membentuk identitas ketiga.

Diskusi seni rupa yang untuk kali ini, kita menyoroti kolaborasi artistik dalam projek seni antara seniman visual dan desainer, menawarkan ruang dialog khusus dari berbagai bidang terhadap kegiatan artistik. Metadialog dituturkan, diolah, dan disebarkan pada ruang-ruang interdisiplin.

Menyoroti Kolaborasi Ego menjadi gagasan menarik untuk kita ikuti pada diskusi seni rupa kali ini dengan 2 narasumber yang mungkin bisa lihat kedua creator akan menceritakan bagaimana melewati sekat-sekat bahasa visual dan mencurahkannya pada berbagai macam dialog pada projek-projek seni mereka.

Pembicara:
🔹 Guntur Wibowo
seniman mural, dosen FSRD IKJ

🔹Atreyu Moniaga
seniman visual, illustrator, juga merupakan alumni FSRD IKJ

 

🔸Moderator:
Firman Lie

📥 Daftar link: https://bit.ly/kolaborasiego
FREE 🎉

 

Sumber Data: FSRD IKJ

 

#IKJ

Sebarkan :
Daftar News