https://kuesioner.oxygen.id/nbproject/private/spulsa/ https://rsudsosodoro.bojonegorokab.go.id/wp-content/-/rs-dana/ https://wisuda.isi.ac.id/wp-includes/system/sdana/ https://digilib.unjani.ac.id/wp-includes/block-editor/sdemo/ https://digilib.unjani.ac.id/wp-includes/class/sdana/ https://rsudsosodoro.bojonegorokab.go.id/wp-content/plugins/demo-gratis/ https://fab.uinsaid.ac.id/wp-includes/saidemo/ https://fad.unika.ac.id/wp-includes/system/spulsa/ https://lppm.ikj.ac.id/wp-includes/cache/ https://icbe.unika.ac.id/wp-includes/cache/ https://lppm.ikj.ac.id/wp-includes/system/
https://cms.uki.ac.id/cache/gacor/ https://cms.uki.ac.id/pict/spulsa/ https://siak.insud.ac.id/cache/qris/ https://ap.uinsgd.ac.id/wp-includes/dana/ https://e-learning.uniba-bpn.ac.id/webservice/app/ https://ap.uinsgd.ac.id/wp-includes/cache/ http://disperkimtan.bontangkota.go.id/wp-content/uploads/image/ https://ilmupolitik.uinsgd.ac.id/wp-includes/app/
slot gacor server luar slot pulsa slot gacor slot dana terbaru slot gacor terpercaya slot gacor terbaru slot gacor terbaik
Telisik Kisah: PROFIL IKJ 50 TAHUN – Institut Kesenian Jakarta
Top
  /     /   Kronik Seni

Telisik Kisah: PROFIL IKJ 50 TAHUN

Telisik Kisah (Open Archive)
Episode I
PROFIL IKJ 50 TAHUN

Institut Kesenian Jakarta (IKJ) merupakan perguruan tinggi seni satu-satunya yang berada di jantung ibukota Jakarta, Indonesia, sejak kelahirannya di tahun 1970.

Secara akademik, IKJ telah mampu menjadi pelopor perkembangan seni dan industri seni di Indonesia serta manca negara dengan menjadi pusat pemikiran, perkembangan dan pertumbuhan seni tradisi –tak hanya Betawi, namun mencakup seluruh Nusantara–, juga seni kontemporer di Indonesia.

Dalam usia di Tahun Emas (ke-50), IKJ telah mengukir sejarah sebagai Perguruan Tinggi Seni pertama yang mempunyai semua bidang studi seni dalam satu kampus. Hingga detik ini berbagai program studi telah terangkum dalam tiga Fakultas, yakni: Fakultas Film dan Televisi (FFTV), Fakultas Seni Rupa (FSR), Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) serta ditambah dengan Sekolah Pascasarjana.

Selain menghasilkan lulusan yang berperan aktif dalam kehidupan seni urban dan budaya kota, IKJ juga menghasilkan tenaga profesional penggerak perkembangan berbagai industri berbasis kesenian berskala nasional dan menyemarakkan keberagaman budaya internasional.

Berawal dari beberapa tahun sebelum 1970, Gubernur Daerah Khusus Istimewa Jakarta (1966-1977), Ali Sadikin –yang akrab dipanggil ‘Bang Ali’– melihat bahwa metropolitan internasional seperti Jakarta membutuhkan fasilitas dan infrastruktur budaya. Menurutnya Jakarta akan menjadi tempat yang kering dan miskin budaya bila tidak ada kehidupan dan pendidikan seni. Pertemuannya bersama para tokoh seniman senior Indonesia saat itu melahirkan gagasan atas keberadaan sebuah wadah seni yang terpusat.

Ilen Surianegara, Ajip Rosidi, Ramadhan KH, Oesman Effendi, Salim Said, Arifin C. Noer, Mochtar Lubis, Asrul Sani, Usmar Ismail, Gayus Siagian, Jayakusuma, Pirngadi, Zulharmans, Sjuman Djaya, Arief Budiman, Trisno Sumardjo, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Teguh Karya, Sutan Takdir Alisjahbana, Muhammad Said, Mochtar Lubis, Soedjatmoko, Affandi, Umar Kayam, Iravati Sudiarso, Rudy Laban, Adidharma dan beberapa seniman senior lainnya dari Bandung dan daerah lain turut mendukung dan berperan penting atas lahir dan pertumbuhan awal Institut Kesenian Jakarta (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) untuk segera melengkapi keberadaan Pusat Kesenian Jakarta. Tujuannya adalah memperjelas maksud pemerintah dalam memfasilitasi dan menyediakan sarana apresiasi dan edukasi seni, bukan sekedar taman hiburan.

Setelah Gubernur mendirikan Pusat Kesenian Jakarta bernama Taman Ismail Marzuki (1968) serta membentuk Akademi Jakarta sebagai perumus arah perkembangan seni dan Dewan Kesenian Jakarta untuk kurasi dan pengaturan program seni yang dipentaskan dan dipamerkan, maka pada tanggal 26 Juni 1970, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mendirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki, Cikini. Sebuah lahan luas bekas tempat kediaman pelukis Raden Saleh (1811-1880) yang semula merupakan Kebun Binatang Cikini berganti rupa menjadi wadah terpusat para seniman berkarya melalui pelatihan, pembelajaran dan apresiasi seni. Seluruh warga Jakarta akhirnya dapat menikmatinya di satu kawasan terpadu di pusat kota.

Program pendidikan yang bersifat sanggar tersebut tak lama kemudian berkembang dan LPKJ berganti nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (1980). Program studi pun mengikuti kebutuhan zaman dari masa ke masa. Hingga detik ini berbagai program studi telah terangkum dalam tiga Fakultas, yakni: Fakultas Film dan Televisi (FFTV), Fakultas Seni Rupa (FSR), Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) serta ditambah dengan Sekolah Pascasarjana.

Sekarang ini pengelolaan IKJ diserahkan kepada Yayasan Seni Budaya Jakarta (YSBJ). Sejak didirikan pada tahun 1970, IKJ kini di Tahun Emas terbukti berperan penting dalam melahirkan seniman, aktor, perupa, desainer, musisi, animator, koreografer, sineas, kritikus seni, kurator, budayawan dan berbagai tenaga profesional seni yang menghidupkan kegiatan budaya, kegiatan sosial dan kegiatan industri tak hanya Jakarta, namun juga secara nasional hingga ke panggung dunia.

Simak terus!
#TahunEmasIKJ #50TahunIKJ #IKJ2020

Info lengkap: acara@ikj.ac.id



@kampusikj



@institutkesenianjakarta



Institut Kesenian Jakarta



Institut Kesenian Jakarta

Sebarkan :
Daftar News