Top
  /     /   Dosen IKJ

RIP Prof. Srihadi Soedarsono, MA (1931-2022)

Berita Duka:
Innalillahi wa inna illaihi roji’un
Telah berpulang ke hadirat Yang Esa, Prof. Srihadi Soedarsono, MA (1931-2022) pada hari Sabtu tanggal 26 Februari 2022 pukul 05.15 WIB di kediaman almarhum Jl. Ciumbuleuit No. 173, Bandung – Jawa Barat.
Almarhum adalah seniman besar Indonesia yang sangat berperan dalam pengembangan pendidikan Institut Kesenian Jakarta di saat pendiriannya era 1970-an dengan menjabat sebagai Ketua Akademi Seni Rupa LPKJ (setingkat Dekan) di tahun 1974.
Jenazah almarhum disholatkan di Mesjid Salman Institut Teknologi Bandung pada pukul 12.00 WIB, dan dilepas oleh pimpinan ITB di Aula Timur pada pukul 13.00 WIB. Jenazah diberangkatkan dari Aula Timur dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.
*

(dok.foto: Tempo/ ANTARA)

 

Obituari:

 

Prof. Srihadi Soedarsono, MA (1931-2022) 

 

Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Srihadi Sudarsono Adhikoesoemo, lahir di Surakarta pada tanggal 4 Desember 1931 adalah salah satu seniman besar Indonesia yang sangat berperan dalam pengembangan pendidikan Institut Kesenian Jakarta di era 1970-an dengan menjabat sebagai Ketua Akademi Seni Rupa LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) di tahun 1974.

Mengawali kesukaannya sejak belia di bidang seni rupa, hingga diangkat menjadi anggota Tentara Pelajar pada rentang tahun 1945 hingga 1948 sebagai wartawan pelukis yang menciptakan poster-poster untuk Balai Penerangan Divisi IV BKR/TKR/TNI di Solo. Karir militernya berakhir tahun 1948 ketika terjadi rasionalisasi dengan pangkat sersan mayor dan bersekolah lagi di SMA II Surakarta. Namun untuk karir militernya pemerintah sempat memberikan Tanda-Jasa “Bintang Gerilya RI” (1958) dan Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II (1958). Pada 1946, beliau bergabung dalam Seniman Indonesia Muda di Solo dan selanjutnya di periode 1947-1952 Yogyakarta, aktif sebagai anggota dalam pembentukan Himpunan Budaya Surakarta di Solo (sejak awal berdiri di tahun 1950).  Srihadi belajar kepada pelukis-pelukis perintis seni lukis Indonesia, seperti Sudjojono dan Affandi. Sewaktu bergabung dengan Kementerian Urusan Pemuda Republik Indonesia yang berlokasi di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta saat itu, Srihadi juga berada di sana bersama Sudjojono untuk menegakkan perjuangan Indonesia melalui seni rupa. Belanda ditarik dari Indonesia pada Desember 1949. Srihadi memilih meneruskan sekolah yang sebelumnya pernah terhenti, dan menerima beasiswa. Ia bersekolah di SMAN 1 Margoyudan, tamat 1952.

Pada tahun 1952 ia mulai mengikuti pendidikan seni di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung). Di tahun 1955, ia sempat menciptakan logo Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) berbentuk sebuah palette berlambang Universitas Indonesia. Srihadi Soedarsono lulus sebagai sarjana seni rupa dan diwisuda pada hari Sabtu, 28 Februari 1959, tepat dua hari sebelum Institut Teknologi Bandung diresmikan (Senin, 2 Maret 1959). Setelah Maret 1959, bentuk Ganesha menggantikan logo UI di palette KMSR.

Pada tahun 1960 Srihadi mendapatkan beasiswa dari ICA (The International Communication Association) untuk belajar di AS guna melanjutkan kuliah di Ohio State University hingga mendapat gelar master of art pada tahun 1962. Sempat kembali ke ITB (1964) sebelum  kembali lagi mengenyam studi di Rochester Institute of Technology, NY, AS (1969).

Tetap produktif dan sering berpameran di berbagai acara baik domestik mau pun luar negeri, karyanya banyak diburu kolektor dalam dan luar negeri.

Selain sebagai pelukis, beliau mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung juga di Institut Kesenian Jakarta sekembalinya dari negeri Paman Sam. Di masa pendirian IKJ sewaktu masih bernama LPKJ, posisinya sebagai Ketua Akademi Seni Rupa (1974) sangatlah penting terutama sebagai pionir dalam penentuan kurikulum program studi. Predikat Guru Besar Seni Rupa disandangnya pada tanggal 1 Desember 1992 dari almamater ITB.

Pada jelang pameran tunggal Srihadi Soedarsono di ulang tahunnya ke-90 (Desember 2021), Srihadi Soedarsono melukiskan evolusi Ibu Kota lewat ‘Jayakarta’. Lukisan sebesar 2×4 meter itu menggambarkan kota Jakarta sejak tahun 1527 hingga 1970-an. Lukisan ‘Jayakarta’ kisahnya bermula dari lukisan ‘Air Mancar’ (TMII, 20 April 1975) karya Srihadi bertema kritik sosial yang menunjukkan kesemrawutan ibukota Jakarta. Lukisan ini memicu kemarahan Ali Sadikin yang serta merta mencoret-moret lukisan tersebut. Namun kemudian lukisan tersebut dipajang di ruang khusus untuk menjamu tamu penting pemerintahan di Balai Kota DKI saat itu hingga masa jabatan Ali Sadikin berakhir.

Kurang lebih tujuh dekade karirnya di bidang seni, karya-karya lanskap geometrisnya banyak dipengaruhi zen dan filosofi Jawa. Yang paling terkenal adalah serial obyek Candi Borobudur dan tarian Jawa Bedhaya. Salah satu yang paling dikenal adalah lukisan berjudul Bedhaya Ketawang sepanjang dua meter.

Atas dedikasinya di dunia seni beliau mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1971, lalu Cultural Award dari Pemerintah Australia pada tahun 1973 serta hadiah terbaik di ajang Biennalle Jakarta III Seni Lukis Indonesia pada tahun 1978 dan berikutnya mendapatkan Fulbright Grant dari Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1980. Selanjutnya di era millenium didapatkannya pula Piagam dan Medali “Satyalancana Kebudayaan RI” (2004), Piagam dan Medali “Anugerah Sewaka Winayaroha”, Penghargaan Pengabdian Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional (2008); serta penghargaan dari internasional yakni The American Biographical Institute 2005 Commemorative Medal “Man of The Year” (2005). Serta sebanyak sepuluh karya lukisannya juga telah menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia alias koleksi negara. Jim Supangkat kurator internasional menuliskan keterkaitan Srihadi Soedarsono selaku Saksi Sejarah Perkembangan Seni Rupa Indonesia Sejak Era Perjuangan hingga Kini dalam buku berjudul “Srihadi dan Seni Rupa Indonesia” (GNI, 2012). November 2021 lalu ia menerima Sang Hyang Kamahayanikan Award di Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2021. Budayawan Dr. Jean Couteau sebagai penulis 0buku “Srihadi Soedarsono— Man x Universe” (Galeri Nasional Indonesia, 2020) melihat Srihadi sebagai sosok yang memiliki kemampuan untuk ‘merasa’ yang luar biasa selain sebagai salah seorang maestro simbolis-koloris kelas dunia. Nama Srihadi Soedarsono bahkan telah banyak dibahas dalam buku Claire Holt berjudul Art in Indonesia, Continuities and Change terbitan Cornell University Press, 1967.

Srihadi Soedarsono menikah dengan Sitti Farida Nawawi yang lebih dikenal sebagai Farida Srihadi (pelukis dan pengajar seni rupa juga) serta memiliki dua anak perempuan dan satu anak laki-laki, yaitu Tara Farina, Rati Farini dan Tri Krisnamurti Syailendra.

Selamat Jalan, Prof.

Ngaturaken Sugeng Tindak

#IKJ

 

Sumber Data: google.com

Sebarkan :
Daftar News