https://stdb-disbun.kutaitimurkab.go.id/storage/2022/ https://bimteksiakad.iain-manado.ac.id/image/sgacor/ https://ps.iainponorogo.ac.id/wp-includes/img/ https://taep.umm.ac.id/modules/-/sgacor/ https://perpus.poltekcwe.ac.id/image/pgacor/ https://dishutlh.papua.go.id/public/belakang/sgacor/

https://icab.brown.gob.ar/dana/ https://rsudsosodoro.bojonegorokab.go.id/wp-content/-/rs-dana/ https://training.dhis2.org/mod/ads/ https://plataformavirtual.fespugt.es/ads/ https://lms.zepter.com/local/system/ https://taep.umm.ac.id/certification/system/ https://lapor.jogjaprov.go.id/admin/ads/ https://rs.uns.ac.id/wp-includes/spulsa/ https://moodle.upng.ac.pg/comment/css/ https://taep.umm.ac.id/certification/app/ https://www.sipbj.banggaikab.go.id/fonts/

slot gacorslot gacor maxwinslot gacor terpercayaslot gacor hari inislot gacor 2024
INHIBITION – Institut Kesenian Jakarta
Top
  /     /   Kronik Seni

INHIBITION

Lulusan dari Institut Kesenian Jakarta, Densiel Prismayanti Lebang menyajikan karyanya hingga ke negeri kimchi, Korea (4 – 6 Mei 2019). Tepatnya di ajang Ansan Street Art Festival, Korea Selatan. Bersama para performer yang terdiri dari Yusuf Bakrie, Ferry Alberto (Eyi) Lesar dan Try Anggara serta dipandu Artistic Director, Richard Dillian Kalipung, karya yang berjudul INHIBITION ini mencoba menguak kepekaan tubuh yang muncul akibat tegangan antara tarikan dan penolakan. Berangkat dari konsep ‘menguasai dan dikuasai’ menjadi kementakan yang terjadi antara dua tubuh dan seutas tali. Sifat alamiah tali dan simpul pun menjadi katalis, serta mengangkat proses karya ini menjadi pengalaman inderawi yang mengandung ingatan akan batasan dan ikatan. Karya ini menimbulkan pertanyaan seputar “Apakah batasan dan ikatan sebenarnya mengekang atau, sebaliknya, apakah mereka itu memiliki potensi untuk menyebabkan ketersambungan dan kolektivitas? Bagaimana dengan hubungan antara tubuh para penari, dan teknik tari yang mereka kuasai, sebagaimana halnya mereka memiliki kemampuan negosiasi dan bergerak di antara tegangan ini?”. Akhir April (29/4) yang lalu karya ini sempat ditampilkan di Pelataran Teater Besar, Taman Ismail Marzuki sebagai penampilan try out.

Densiel sudah aktif bekerja sebagai penari dan koreografer independen sejak 2013. Sebagai seorang penari, ia pernah bekerja untuk Yola Yulfianti, Andara F. Moeis dan Hartati, koreografer kontemporer Indonesia. Sejak 2018 ia terlibat dalam banyak lokakarya tari/koreografi yang difasilitasi oleh para praktisi lokal dan internasional seperti Arno (Belanda), Wardi (Malaysia), Anouk Peeters (Belgia), Ingun Bjornsgaard (Norwegia), Antony Hamilton (Australia), Su-Wen Chi (Taiwan), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Benny Krisnawardi (Jakarta). Tahun ini, ia juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Shifting Workshop di Play Practice Residency di India dengan Robert M. Heyden dari Ultima Vez Dance Company. Karya koreografisnya antara lain, No Limit (2016), EMOLOGUE (2016), Dejavu: Choreojam IKJ with Trio Kwek-Kwek (2016), MyWay (2016), 1 (2015), Myspace (2015), Meonglikan Ahihihi (2014), AMEN (2014). Pada 2017, ia mendapat hibah dari Yayasan Kelola untuk menciptakan #NEEDMOREINTERACTION dan terpilih sebagai koreografer dalam “Ins and Outs” Sasikira Dance Lab dan Choreo Lab Bandung.

Sebarkan :
Daftar News