Top
  /     /   Dosen IKJ

RIP Toeti Heraty (1933-2021)

Telah berpulang ke rahmatullah sesepuh senior sivitas akademika Institut Kesenian Jakarta (Rektor IKJ Periode 1990-1996) Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi binti R. Roosseno pada usia 87 tahun (lahir 27 November 1933) di RS MMC Jakarta pada hari Minggu, 13 Juni 2021, pukul 05.10 pagi.
Almarhumah disemayamkan di rumah duka: Jl. Cemara no.6, Menteng, Jakarta Pusat, dan akan dimakamkan setelah waktu sholat dzuhur di TPU Karet Bivak.
Pihak keluarga almarhumah mohon doa para kerabat/kolega dan dibukakan pintu maaf bagi almarhumah.
Sosok Toeti Heraty, doktor filsafat yang sebelumnya pernah studi di Rijk Universiteit, Leiden, Belanda ini adalah salah satu pelopor berdirinya IKJ, diangkat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1971) saat pembentukannya di pusat kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang juga baru lahir.
Dikenal sebagai penyair, penulis produktif dan aktivis perempuan yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra UI (1994), Toeti Heraty turut aktif beraspirasi dalam mengembangkan khasanah kebudayaan dan majunya jalur kesenian para seniman tanah air melalui kepengurusannya di Akademi Jakarta. Kiprah almarhumah dalam memperluas wawasan dan peluang-peluang di bidang seni membuatnya dijuluki sebagai ibu para seniman dan budayawan Indonesia.
Selamat jalan, Ibu Toeti. Kau selalu tetap di hati
#IKJ
***
Obituari
Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi binti R. Roosseno (1933-2021)
Prof. Dr. Toeti Heraty N. Roosseno (1933-2021) dikenal sebagai penulis, budayawan, dokter dan filsuf Indonesia adalah figur seorang Rektor perempuan yang pertama bagi sivitas akademika Institut Kesenian Jakarta (1990-1996). Kiprah dan sumbangsih beliau bagi IKJ sangatlah besar, telah terpatri hingga sepanjang masa.
 
Saat Gubernur Ali Sadikin membuka Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (10 November 1968), Toeti bergabung sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang tak lama kemudian segera dibentuk (7 Juni 1968) untuk periode 1968 hingga 1971 dan sangat berperan penting dalam membidani kelahiran IKJ saat itu bernama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta hingga berdiri di tanggal 26 Juni 1970.
 
Setelah pendirian LPKJ, Gubernur Ali Sadikin membentuk Akademi Jakarta (24 Agustus 1970) sebagai dewan penasehat bagi Gubernur DKI Jakarta. Keanggotaannya dipilih DKJ berdasarkan peranannya sebagai tokoh kesenian sekaligus pemikir kebudayaan di masyarakat luas, dan keanggotaan ini berlangsung seumur hidup, dimana pada kurun waktu kemudian Toeti diangkat sebagai salah satu anggota Akademi Jakarta.
 
Jabatan selaku Ketua DKJ sempat diemban Toeti (1982-1985) di sela-sela kesibukannya di bidang akademik dan menulis serta kepenyairannya. Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1981) dan International Writing Program (1984) sempat diikuti sembari menerbitkan buku puisinya (Mimpi dan Pretensi, 1982) setelah karya pertamanya (Sajak-Sajak 33, 1973) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dalam buku Contemporary Indonesian Poetry (1975).
 
Mulai menulis sajak di tahun 1966, karya Toeti yang diterjemahkan pula ke dalam bahasa Belanda, Jerman dan Perancis dianggap berani berada di luar jalur mainstream puisi modern Indonesia,  sehingga kurang populer bagi awam. Namun bagi penikmat filsafat, tulisan esai dan sajak Toeti merupakan interpretasi dalam dan luas dengan referensi hidup serta wacana, penuh dengan kesadaran dan pengartian (makna).
 
Toeti Heraty adalah putri Prof. Dr. (HC) Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo seorang cendekiawan, politikus, ilmuwan dan sahabat Ir. Soekarno, Presiden RI pertama serta guru besar Institut Teknologi Bandung, rektor beberapa perguruan tinggi teknik hingga dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia yang kemudian menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja (1953) dan Menteri Perhubungan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955) serta anggota Federation International de Precontreinte (FIP), PerwakilaSociete Technique de Utilisation de Beton Precontrante Paris (STUP) serta anggota International Association for Bridge and Structural Engineering Zurich (IABSE).
 
Masa domisili Toeti di Eropa, tepatnya di Paris saat mengikuti tugas sang ayah membuatnya semakin lekat dengan kehidupan budaya, khususnya kesenian dan filsafat. Perkembangan dan pengalaman hidupnya membuat Toeti kemudian lebih menyuarakan kesetaraan hak, gender, feminisme dalam berbagai tulisan dan presentasi oratoriumnya termasuk bait-bait puisinya yang semakin mengokohkan eksistensinya sebagai penyair. Toeti Heraty hingga kini dikenang sebagai tokoh intelektual, budayawati dan sastrawati yang telah urun budi sekian lama dalam menyemai dan menumbuhkembangkan kehidupan berkesenian berstandar internasional melalui apresiasinya yang tak terkira kepada para seniman dan seniwati potensial demi mengangkat dan melambungkan nama Indonesia di panggung dunia.
 
Bon voyage, chère Madame
Rest in Peace
 
*

Puisi karya Toeti Heraty:

S e l e s a i

Suatu saat toh mesti ditinggalkan
dunia yang itu-itu juga
api petualangan cinta telah pudar
bayang-bayang dalam mimpi, senyum
tanpa penyesalan kini
beberapa peristiwa tinggalkan
asap urai ditelan awan…”

beberapa nama, beberapa ranjang
berapa tinta mengalir dan terbuang
                          -mengapa tidak?!-

menyeka debu dari buku, menemukan
                          coretan yang hampir musna
jadi permainan yang hilang ketegangannya

dunia ini nyata, suatu penemuan!
dunia ini nyata, suatu keheranan!
kebenaran dan penemuan jelamakan
                        benda-benda mesra

bola yang usang dan beruang tercinta
sepatu merah yang telah lepas-lepas
                       kulitnya,

dunia ini nyata
sebentar lagi anak-anak pulang
                     dari pesta

Jan’67

(Sumber: Majalah Horison, No. 10, Th. II)
Sebarkan :
Daftar News