Top

Visi Misi

VISI & MISI INSTITUT KESENIAN JAKARTA

VISI

Menjadi perguruan tinggi seni yang bermartabat di bidang seni urban dan industri budaya dan kompetitif di tingkat nasional dan global pada tahun 2045.

MISI

1. Melaksanakan tridharma perguruan tinggi yang bermutu untuk kemajuan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi serta untuk kemaslahatan masyarakat.

2. Menghasilkan lulusan yang mandiri dan kompetitif di tingkat nasional dan global.

3. Menciptakan dan mengembangkan karya seni urban dan industri budaya untuk kemakmuran bangsa.

SEJARAH

1970 – SEKARANG

Berawal dari beberapa tahun sebelum 1970, Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta (1966-1977), Ali Sadikin –yang akrab dipanggil ‘Bang Ali’– melihat bahwa metropolitan internasional seperti Jakarta membutuhkan fasilitas dan infrastruktur budaya. Menurutnya Jakarta akan menjadi tempat yang kering dan miskin budaya bila tidak ada kehidupan dan pendidikan seni. Pertemuannya bersama para tokoh seniman senior Indonesia saat itu melahirkan gagasan atas keberadaan sebuah wadah seni yang terpusat.

Setelah Gubernur mendirikan Pusat Kesenian Jakarta bernama Taman Ismail Marzuki (1968) serta membentuk Akademi Jakarta sebagai perumus arah perkembangan seni dan Dewan Kesenian Jakarta untuk kurasi dan pengaturan program seni yang dipentaskan dan dipamerkan, maka pada tanggal 26 Juni 1970, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mendirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki, Cikini. Sebuah lahan luas bekas tempat kediaman pelukis Raden Saleh (1811-1880) yang semula merupakan Kebun Binatang Cikini berganti rupa menjadi wadah terpusat para seniman berkarya melalui pelatihan, pembelajaran dan apresiasi seni. Seluruh warga Jakarta akhirnya dapat menikmatinya di satu kawasan terpadu di pusat kota.

Program pendidikan yang bersifat sanggar tersebut tak lama kemudian berkembang dan LPKJ berganti nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (1980). Program studi pun mengikuti kebutuhan zaman dari masa ke masa. Hingga detik ini berbagai program studi telah terangkum dalam tiga Fakultas, yakni: Fakultas Film dan Televisi (FFTV), Fakultas Seni Rupa (FSR), Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) serta ditambah dengan Sekolah Pascasarjana.

Sekarang ini pengelolaan IKJ diserahkan kepada Yayasan Seni Budaya Jakarta (YSBJ). Sejak didirikan pada tahun 1970, IKJ kini di Tahun Emas terbukti berperan penting dalam melahirkan seniman, aktor, perupa, desainer, musisi, animator, koreografer, sineas, kritikus seni, kurator, budayawan dan berbagai tenaga profesional seni yang menghidupkan kegiatan budaya, kegiatan sosial dan kegiatan industri tak hanya Jakarta, namun juga secara nasional hingga ke panggung dunia.

Sejarah Lengkap >

Institut Kesenian Jakarta (IKJ) semula bernama LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) merupakan proyek utama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di samping Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM). Lembaga ini pertama kali dibuka pada tahun 1970 dengan pendidikan enam bidang kesenian yaitu Akademi Seni Rupa, Akademi Teater, Akademi Musik, Akademi Tari, Akademi Film dan Akademi Seni Sastra. Akademi Seni Sastra tidak mengalami perkembangan dan LPKJ tetap merupakan lembaga pendidikan tinggi kesenian pertama di Indonesia yang mencakup 5 (lima) bidang kesenian di dalam satu kampus.

Berdirinya LPKJ

Pada tahun 1967, Gubernur DCI (Daerah Chusus IbukotaDjakarta Ali Sadikin (1966-1977) bertemu para seniman senior, membahas perlunya sebuah Pusat Kesenian di Jakarta. Gubernur sadar bahwa sebuah kota besar tidak hanya dibangun dengan ekonomi dan infrastruktur industri. Bahwa selain fasilitas umum dan fasilitas sosial, sebuah kota besar memerlukan fasilitas dan infrastruktur budaya. Bahwa budaya adalah ciri sebuah kota dan sebaliknya, kota tanpa budaya yang beradab bisa mendangkalkan warganya. Para seniman mengeluhkan bahwa saat itu tak ada tempat berpentas, berkumpul, berdiskusi dan berpameran yang layak dan cukup besar. Gubernur pun berkeinginan membentuk dan membuat fasilitas untuk Seni dan Budaya Betawi, budaya asli Jakarta, yang telah dipilih menjadi identitas dan ikon Jakarta.

Dari rangkaian pertemuan tersebut, timbul gagasan mendirikan Pusat Kesenian Jakarta di bekas lahan yang tadinya adalah Kebun Binatang Cikini. Kebun Binatang baru yang lebih luas, asri dan teduh telah dibangun di Ragunan, Jakarta Selatan. Karena itu Cikini dipilih menjadi pusat kesenian baru, selain tempat tersebut sangat strategis di pusat kota, lahan itu juga punya sejarah budaya sebagai bekas rumah milik Raden Saleh, pelopor seni lukis romantik-realistik Indonesia. Pada akhirnya dengan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1b.3/2/19/1968, Gubernur memutuskan membangun infrastruktur seni dan membiayai pemeliharaan serta pengembangan seni di tempat tersebut, atas usul masyarakat, Tempat itu diberi nama Pusat Kesenian Djakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM). Tempat ini dimaksudkan untuk mementaskan, memamerkan dan mempertunjukkan hasil karya seni di Indonesia baik yang tradisional maupun yang modern-kreatif. PKJ-TIM juga menyelenggarakan pertunjukan terkemuka mancanegara. Gubernur juga membentuk 2 lembaga pendukung yaitu Akademi Djakarta (merumuskan arah perkembangan seni) dan Dewan Kesenian Djakarta (kurasi dan pengaturan program seni).

Dari pembicaraan dengan para seniman senior juga muncul kebutuhan untuk mempunyai pusat pendidikan tinggi seni, yang mempelajari seni-seni kreatif-modern, yang nantinya akan mengisi PKJ TIM. Para seniman senior menyatakan bahwa PKJ TIM akan menjadi tempat pembelajaran dan penyemaian seni yang ideal, karena banyak pameran dan pertunjukan bermutu dan seniman besar Indonesia maupun dunia memberikan workshop di sana. Namun perlu suatu wadah pendidikan yang terstruktur dan punya disiplin kuat. Maka pada tanggal 26 Juni 1970, Gubernur DKI Jakarta menerbitkan SK No. Cb.14/4/6/70 mengenai Lembaga Pendidikan Kesenian Djakarta (LPKD), dengan 6 akademi yaitu: Teater, Tari, Musik, Film, Seni Rupa dan Seni Sastra. Dalam perkembangannya, Akademi Seni Sastra tidak pernah dibuka. Dalam SK itu disebutkan bahwa: Secara materiil Lembaga Pendidikan Kesenian Djakarta bertanggung jawab kepada Gubernur dan secara idiil bertanggung jawab kepada Dewan Kesenian Djakarta (DKD). Pada awalnya kegiatan belajar-mengajar dilakukan di lantai dua gedung induk PKJ TIM (bersebelahan dengan kantor DKJ).

Lambang lembaga diciptakan oleh G. Sidharta berupa stilasi Pohon Hayat yang melambangkan kelangsungan alam dan kehidupan abadi yang berakar di bumi Indonesia. Bentuk rumah tradisi di bawahnya juga melambangkan rumah besar sekaligus kebun persemaian lahirnya para kreator dan pemikir kesenian yang berperan dalam perkembangan kebudayaan Indonesia dan memecahkan semua persoalan dengan azas kekeluargaan. Motif gelombang air di tengah melambangkan sifat dinamis dalam menghadapi segala keadaan. Motif sepasang burung di kiri dan kanan serta api yang mencuat di tengah adalah lambang wawasan luas dan sikap terbuka terhadap lingkungan dan kesadaran budaya.

Pada mulanya kegiatan belajar-mengajar menggunakan sistem sanggar dan magang dengan pendekatan individual yang menitikberatkan pada kepentingan kreativitas. Karena minat mahasiswa baru semakin besar dan kegiatan DKJ dan PKJ TIM semakin banyak, Gubernur membangun kampus baru, di sebelah gedung induk TIM. Pada peringatan ulang tahun ke 6 LPKJ tanggal 26 Juni 1976, kampus tersebut selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto, menjadi kampus pertama di Indonesia dimana semua bidang seni diajarkan di bawah satu atap. Pada waktu itu sistem yang dipakai adalah pendidikan langsung ke praktik seni, dan belum mengikuti aturan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

LPKJ menjadi Institut Kesenian Jakarta

Pada tahun 1980, Gubernur yang baru Tjokropranolo, meminta supaya LPKJ resmi menjadi Perguruan Tinggi sesuai ketentuan Depdikbud yang berlaku. Untuk itu, sesuai aturan maka (1) harus ada Yayasan yang membina (2) harus ada bentuk akademik yang baku. Dipilihlah bentuk ‘Institut’ dan beberapa tokoh masyarakat dan seni mendirikan Yayasan Institut Kesenian Jakarta (YIKJ). Proses selanjutnya adalah penataan kembali struktur dan aturan akademik sesuai ketentuan dan penataan kembali sistem kelembagaan yang tadinya langsung di bawah Gubernur DKI Jakarta.

LPKJ sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Kesenian Swasta yang tercatat di Kopertis Wilayah III, memperoleh status terdaftar pada tanggal 23 Februari 1981 dari Menteri P & K dengan Surat Keputusan no. 081/O/81. Dengan status tersebut LPKJ memakai sebutan baru yaitu Institut Kesenian Jakarta disingkat IKJ yang dibina oleh YIKJ (Yayasan Institut Kesenian Jakarta) yang didirikan pada tanggal 20 Desember 1981 dengan Akte no.91 Notaris Hobropoerwanto Jakarta.

Sejak 1981 akademi-akademi yang ada berubah menjadi 2 fakultas, yaitu Fakultas Kesenian yang mengelola jurusan Tari, Musik dan Teater serta Fakultas Seni Rupa dan Desain yang di dalamnya terdiri dari Jurusan Seni Rupa dan Jurusan Sinematografi. Dengan restrukturisasi ini, Institut Kesenian Jakarta sejak 1981 tidak lagi menjadi program Dewan Kesenian Jakarta seperti waktu LPKJ sebelumnya, namun menjadi lembaga yang selalu dalam koordinasi KOPERTIS Wilayah III, Dinas Kebudayaan DKI-Jakarta dan YIKJakarta. Institut Kesenian Jakarta tetap menjadi mitra DKJ dalam berbagai program di dalam lingkungan PKJ-TIM maupun di luarnya. Setelah menjadi Institut Kesenian Jakarta, lembaga pendidikan tinggi ini menerapkan sistem pembelajaran secara runut, terukur dan terstruktur yang menekankan kepentingan keilmuan. Pendekatan keilmuan untuk menghasilkan seniman terdidik dan pengkaji seni.

Dengan perkembangannya, tahun 1989 Gubernur membentuk Yayasan Kesenian Jakarta untuk membantu pengelolaan dan program Institut Kesenian Jakarta dan DKJ. Secara resmi berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 148 tahun 1991, Pengelolaan Institut Kesenian Jakarta berada di bawah Yayasan Kesenian Jakarta sesuai Akte Notaris Koesbiono Sarmanhadi, SH. Nomor 69 tanggal 22 Agustus 1989. Yayasan Kesenian Jakarta (YKJ) juga membantu pengelolaan PKJ-TIM. Di dalam koordinasi yayasan ini jumlah program studi dan jumlah mahasiswa, dosen dan karyawan meningkat,.

Institut Kesenian Jakarta saat itu memiliki dua Fakultas yaitu Fakultas Kesenian dan Fakultas Seni Rupa dan Desain. Fakultas Kesenian mencakup tiga Jurusan yaitu Jurusan Teater, Jurusan Musik, Jurusan Tari. Fakultas Seni Rupa dan Desain mencakup dua Jurusan yaitu Seni Rupa dan Sinematografi. Tahun 1989 Jurusan Sinematografi menjadi Fakultas tersendiri yaitu Fakultas Film Televisi, Fakultas Kesenian berubah menjadi Fakultas Seni Pertunjukan, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain berdiri sendiri dengan nama Fakultas Seni Rupa.

Pada tahun 2004, Prof. Sardono W. Kusumo diangkat sebagai rektor untuk masa jabatan 2004-2008, terpilih melalui sidang senat Institut Kesenian Jakarta.

Institut Kesenian Jakarta membentuk program studi baru: Penciptaan dan Pengkajian Seni Strata 2. Salah satu tujuannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, juga mengejar persyaratan yang ditentukan Dikti tentang dosen yang harus lulusan S2. Pada tahun 2009 dimulai kelas pertama Penciptaan dan Pengkajian Seni S2 di Institut Kesenian Jakarta, di bawah pimpinan Direktur Dr. Wagiono Sunarto, MSc. Program S2 yang kemudian menjadi Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta ini memilih “warna” atau karakteristik “Seni Urban dan Industri Budaya”, sesuai dengan Visi Misi Institut Kesenian Jakarta. Pada tanggal 8 Januari tahun 2009, melalui rapat senat, Dr. Wagiono Sunarto, MSc. secara aklamasi dipilih menjadi rektor selanjutnya, periode 2009-2013.

Tahun 2012 Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mendirikan Yayasan Seni Budaya Jakarta (YSBJ) khusus untuk Institut Kesenian Jakarta. Yayasan Seni Budaya Jakarta didirikan dengan Akta Notaris R. Hendro N. Asmoro, SH. Nomor 9, tanggal 14 Februari 2012 dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU-139.AH.01.04.2012. Pada tanggal 20 Mei 2013 berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Nomor 790 Tahun 2013, yang ditandatangani oleh Joko Widodo, pengelolaan Institut Kesenian Jakarta diserahkan kepada YSBJ. Dengan susunan Pendiri serta Pembina Yayasan adalah Dr. H. Fauzi Bowo dan sebagai Ketua Yayasan ditunjuk Slamet Rahardjo Djarot yang saat itu menjabat sebagai Ketua Senat. Rapat Senat Institut Kesenian Jakarta tahun 2014 kemudian memilih Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono untuk menjabat sebagai Ketua Senat Akademik.

Dari sisi akademik, sejak 2006 program studi Institut Kesenian Jakarta sudah mengalami dua periode pengajuan dan penilaian akreditasi dan hingga saat ini (2019) sedang memasuki yang ketiga. Semua program studi (tigabelas program studi) sudah terakreditasi di antaranya ada tiga yang mencapai nilai A yaitu program studi DKV S1, program studi Desain Produk S1 dan program studi Film dan Televisi D3.

Terpilih Dr. Seno Gumira Ajidarma, M. Hum menjadi rektor periode 2016-2020.

Pendirian lembaga Institut Kesenian Jakarta adalah berdasarkan semangat menghasilkan orang-orang dengan kemampuan sebagai peneliti maupun pencipta di bidang kesenian serta lulusan yang dihasilkan Institut Kesenian Jakarta sebagai sarjana yang cerdas, mempunyai kompetensi tinggi dan berdaya saing di bidang kesenian. Proses pembelajaran di Institut Kesenian Jakarta tetap memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan kesenian dan industri kreatif di Jakarta. Nilai-nilai yang mendasari proses pembelajaran di Institut Kesenian Jakarta adalah keterbukaan, kejujuran, kebenaran dan kebebasan berpikir.

Koordinasi dengan lembaga-lembaga seni di bawah Pemda DKI Jakarta seperti Dewan Kesenian Jakarta, Akademi Jakarta dan Unit Pengelola TIM tetap dilakukan untuk menyelaraskan ekosistem kehidupan seni di kawasan Taman Ismail Marzuki.

VISI & MISI INSTITUT KESENIAN JAKARTA

VISI

Menjadi perguruan tinggi seni yang bermartabat di bidang seni urban dan industri budaya dan kompetitif di tingkat nasional dan global pada tahun 2045.

MISI

1. Melaksanakan tridharma perguruan tinggi yang bermutu untuk kemajuan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi serta untuk kemaslahatan masyarakat.

2. Menghasilkan lulusan yang mandiri dan kompetitif di tingkat nasional dan global.

3. Menciptakan dan mengembangkan karya seni urban dan industri budaya untuk kemakmuran bangsa.

STRUKTUR ORGANISASI

Rektorat IKJ

2020-2024

 

Dr. Indah Tjahjawulan, M.Sn.

Rektor Institut Kesenian Jakarta

__

Dr. Indah Tjahjawulan, M.Sn menyelesaikan studi Desain Komunikasi Visual S1 (1997) serta S2 Seni Urban dan Industri Budaya (2011) di Institut Kesenian Jakarta sebelum meraih gelar doktor di Institut Teknologi Bandung untuk Ilmu Seni Rupa dan Desain (2016). Studi S2 & S3 ini dilaluinya melalui Beasiswa Unggulan Mandiri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Mengabdi di almamaternya (IKJ) sebagai anggota staf pengajar (dosen) di Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa IKJ selama hampir seperempat abad dan menjadi kepala Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa IKJ (2000-2003 dan 2013-2016), Pengajar Tamu dan Pembimbing Tesis (Kajian) di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sejak 2016, sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Senat Akademik Institut Kesenian Jakarta, hingga kemudian dipercaya menjadi Dekan Fakultas Seni Rupa IKJ untuk periode 2016–2020 sebelum ini.

Dikenal sebagai desainer grafis sejak tahun 1995, ia telah terlibat dalam penataan pameran nasional maupun internasional, serta editor Jurnal Seni Rupa Warna (JSRW) sejak 2016 hingga kini dan staf editorial (artistik) Jurnal Urbanitas, Sekolah Pasca Sarjana IKJ, Seni Urban dan Industri Budaya (2011-2014). Aktif dalam organisasi profesi, ia pernah menjabat sebagai Direktur Finance ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) untuk periode 2008 – 2010. Saat ini selain menjadi anggota kehormatan ADGI, anggota ADI (Asosiasi Dosen Indonesia) dan anggota Perkumpulan ADRI (Ahli dan Dosen Republik Indonesia, ia juga mendapatkan kepercayaan dari Kemenristekdikti sebagai anggota Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Indonesia dan Evaluator Usulan Program Studi Perguruan Tinggi Indonesia.

Yudi Amboro, M.Sn.

Wakil Rektor I – Bidang Akademik dan Kemahasiswaan

__

Yudi Amboro, M.Sn  menyelesaikan studi Magister (S2) pada bidang Seni Urban dan Industri Budaya Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Jakarta (2011) usai meraih Sarjana (S1) pada bidang Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa IKJ, Jakarta (2001) dan sebelumnya meraih Diploma (D3) pada bidang Desain Grafis Fakultas Seni Rupa IKJ, Jakarta (1997) dengan fokus utama pada penelitian di bidang Animasi dan Video Games.

Selain menempuh pendidikan formal ia juga mengikuti pendidikan lanjutan di bidang Desain Komunikasi Visual dan Multimedia melalui berbagai seminar, kursus, dan pelatihan yang diadakan oleh institusi di tingkat nasional dan internasional. Selain mengajar ia acapkali diminta menjadi Konsultan di bidang Desain Multimedia pada beberapa perusahaan yang berpusat di Hong Kong dengan proyek klien internasional di wilayah Asia Tenggara, Timur dan Tengah
seperti produksi untuk pementasan seni dan pameran di Indonesia, dan juga sebagai narasumber bidang Desain Komunikasi Visual untuk beberapa Kementerian dan Lembaga Pemerintah Republik Indonesia.

Karirnya sebagai pendidik dimulai sebagai Asisten Dosen pada tahun 1998 di Fakultas Seni Rupa dan kemudian terus berlanjut hingga diangkat menjadi Dosen Tetap bidang Animasi & Multimedia Program Studi DKV di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mulai tahun 2004. Selama itu ia juga dipercaya untuk menjabat berbagai posisi struktural sejak sebagai Koordinator Peminatan Multimedia, Sekretaris Program Studi DKV dan kemudian sebagai Wakil Dekan
bidang Akademik di Fakultas Seni Rupa (2016-2020) sebelum ini.

Bintang Bayangkari Doeana, M.Sn.

Wakil Rektor II – Bidang Keuangan, Umum dan Sumber Daya Manusia

__

Bintang Bayangkari Doeana, M.Sn menyelesaikan S2 di Pasca Sarjana IKJ untuk Studi Mayor Seni Urban (2012) setelah lulus studi Mayor Tata Artistik jenjang S1 di Fakultas Film & Televisi-IKJ (1999) dan D3 (1988) sekaligus lulus D3 untuk Mayor Bahasa Jepang di Universitas Indonesia yang dilanjutkan di Trident College, Nagoya, Jepang (1990).

Selain itu ia mengikuti berbagai kursus, antara lain untuk Produksi Video di Leon County Adult and Community Education,Tallahassee, USA (1991), kursus Public Speaking di Florida State University, Tallahassee, USA (1990) dan kursus Documenter dengan Alan Rosenthal di Australian Film Television and Radio School-AFTRS, Sydney (1993) serta partisipasi pada the Friendship Programmed for the 21st Century The Japan International Cooperation Agency – JICA, Japan (1986).

Sejak 1991 hingga kini ia adalah Pengajar Tata Artistik Film IKJ. Kegiatan lainnya sebelum ini antara lain adalah dalam Pengembangan SDM Citra, Citra Film School Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (2007), Deputi Training dan Edukasi KFT Indonesia Persatuan Karyawan Film & Televisi Indonesia (2012–2014), utusan dari IKJ (Indonesia) untuk VGIK International Student Film Festival, Moscow (2013) dan sempat menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang II, FFTV-IKJ (2008 – 2013).


Madia Patra Ismar, S.Sn., M.Hum.

Wakil Rektor III – Bidang Riset, Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat

__

Madia Patra Ismar, S.Sn., M.Hum. adalah staf pengajar (dosen) Kajian dan Multimedia Seni di Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sebelumnya, Program Studi Koreografi di Jurusan Tari FSP IKJ diambilnya (1987) sebelum menyelesaikan studi Strata 1 di Jurusan Antropologi Tari FSP IKJ (2000) sebelum mendapatkan gelar Magister Humaniora dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (2012). Kini, ia berpredikat sebagai kandidat doktor dari FIB UI.

Sebelumnya, selepas SMA (1984) ia sempat kuliah di jurusan Arkeologi UI meski hanya 1 semester, kemudian berlanjut studi di Stamford College Jurusan Managerial Principles, Singapura hingga selesai (1987). Freelancer interpreter/translator bahasa Inggris yang juga ahli pencak silat ini kembali ke tanah air dan selain kuliah di IKJ juga aktif di berbagai kegiatan seni. Ia juga terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Tari IKJ (1990) dan Sekretaris Badan Kemahasiswaan IKJ serta terlibat berbagai kegiatan produksi kesenian di kampus. Tak hanya lokal namun juga di kelas internasional, ia juga terlibat berbagai kegiatan seni seperti Asian University Folk Arts Festival di Jakarta, Indonesian Dance Festival (1991), Jakarta International Festival 1991, Humas dan Kesekretariatan dan Koordinator “Lokakarya Koreografi dan Diskusi Manajemen Seni Pertunjukan IDF VII” (2004).

Penari, koreografer dan sutradara yang juga selaku pembicara, moderator and interpreter dalam berbagai seminar nasional dan internasional ini pernah menjadi pengajar Kursus Movement for Acting serta Management Ketua Jurusan Kajian Seni Pertunjukan FSP IKJ (2008-2012), Sek-Prodi Antropologi Tari dan Prodi Etnomusikologi (2012-2015) IKJ, Dosen Tetap Prodi Etnomusikologi FSP IKJ dan Dosen Luar Biasa di Prodi Tari IKJ. Peneliti dan penulis artikel dalam berbagai buku serta jurnal nasional dan internasional sebelum ini adalah Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di FSP IKJ (2017-2020).

Quotes

Daftar News